Antologi yang sarat dengan kritik sosial dan representasi persoalan masyarakat bawah
Novel ini kental dengan gaya "teror mental" khas Putu Wijaya, di mana realitas sehari-hari dibenturkan dengan kejadian-kejadian aneh (absurd) untuk memaksa pembaca merenungkan kembali arti kebebasan yang sesungguhnya. Kemerdekaan dalam buku ini digambarkan bukan sebagai hadiah akhir yang manis, melainkan sebagai sebuah perjuangan terus-menerus yang melelahkan